“Bila kamu akan pergi?” soalku dalam nada yang sebak dan suara yang tertahan-tahan.
“Dalam masa yang terdekat ini, insyaAllah, apabila urusan terakhir telah aku selesaikan, itupun andai diizinkan oleh-Nya” jawabnya perlahan.
“Mengapa secepat ini?” aku masih tidak dapat menerima hakikat sebuah perpisahan.
“Setiap perkara ada waktunya. Cepat atau lambat biarlah DIA yang menentukan. Bukankah kita sama-sama telah sedia maklum di awal pertemuan pasti ada perpisahan di penghujungnya?” soalnya pula untuk menjawab persoalanku.
“Aku tidak kuat untuk sendiri…”balasku perlahan
“La takhuf wa la tahzan (Jangan takut dan jangan bersedih), Innallah ma ana (Allah bersama-sama kita), beriman dan bertakwalah kepada Allah. Jadikanlah Allah sebagai tempat bergantung dan berharap…”suaranya yang sampai ke cuping telingaku semakin perlahan.
Aku tidak lagi dapat menahan perasaan sedih yang bergolak dihatiku. Tangisanku meledak. Empangan air mataku pecah.
Saat itu, hatiku kosong.
Tiba-tiba, aku merasa kegelapan menyelubungi hariku walau mentari bersinar dengan terangnya. Kurasakan kesunyian menyelubungi sekalian alam dalam hiruk-pikuk manusia di sekitarku.
Aku mengetap bibir, menahan kesedihan yang menghiris pedih.
Ya Allah, redhakanlah hatiku atas ketentuan-Mu ini. Pasrahkanlah hatiku atas ketetapan-Mu ini. Ya Allah..Ya Allah…
Hatiku terus berbisik. Memohon kekuatan…
Pedihnya sebuah perpisahan. Tapi, itulah syarat utama untuk sebuah pertemuan yang lain.
“Jadikanlah Al-Quran sebagai teman hidupmu agar kau tidak merasa bersendirian dalam perjuangan ini. Fahamilah bahasa al-Quran dengan hatimu agar kau dapat merasai agungnya kasih-Nya, kerana akal hanya mampu mengetahui tapi hatilah yang merasai sebuah cinta …” suaranya tenggelam timbul perlahan-lahan masuk ke dalam telingaku.
‘Aku harus pergi sekarang, masa tidak akan berhenti untuk menunggu…”tuturnya lembut namun amat tajam menghiris hatiku. Aku mengongoi bagaikan anak kecil.
“Apakah ada lagi pertemuan selepas ini?” aku masih merasa keberatan untuk melepaskannya pergi.
“InsyaAllah, tidak di di dunia, di akhirat”jawabnya penuh keyakinan.
Kemudian, dia menyambung...
“Aku menyayangimu kerana Allah, dunia dan akhirat. Bukankah Subuh itu sudah dekat?” bisiknya perlahan sambil menepuk bahuku perlahan.
"Lihatlah dengan mata hati. Semoga tabah untuk meneruskan hidup..." kata-kata terakhirnya itu terngiang-ngiang di kepalaku, masuk ke dalam hatiku...
Pandanganku kelam.
Dengan nama-Mu Ya Allah, Tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah engkau berikan nikmat.
Dengan Nama-Mu Ya Allah, aku memohon, rahmatilah kami di dunia dan di akhirat…
Dengan Nama-Mu Ya Allah, peliharalah kami di dalam petunjuk-Mu…
Dengan Nama-Mu Ya Allah, Aku hidup dan aku mati..
Masa silih berganti. Tiap malam atau siang yang menjelang pasti akan sirna andai ketetapan telah datang...
Pergilah sahabatku, demi meraih cinta yang Agung...
Hati yang kesepian,
Kian sepi di pinggiran..
Apakah ada lagi?
Inilah catatan terakhir dalam musafir kehidupanku...
No comments:
Post a Comment